07 Oktober, 2012

SEJARAH BULAK BARU


BULAK BARU DALAM SEJARAH

            Tujuh kilo meter kearah selatan dari jantung kota Jepara, melewati desa Pesajen Karang Kebagusan, Tegal Sambi, Demangan, Platar Semat dan Tanggul  Tlare   anda akan masuk desa Bulak Baru. Desa yang unik berpenduduk 900 orang yang terdiri dari 4 RT ! RW. Dengan batas desa timur desa Bugel, Selatan desa Panggung  utara desa Tanggul Tlare dan Barat terbentang luas samudra yaitu laut Jawa. Desa bulak baru dulunya bernama desa Bulak yang konon ceritanya adlah sebuah desa kecil yang terpisah dari induk desanya yaitu bugel. Bulak singkatan Bugel pinggir Lak  atau  Bugel yang dekat dengan ujung sungai yang  menuju ke laut. Namun karena cuaca ekstrim sejak tahun 60-an yang mengakibatkan abrasi pantai. Maka desa bulak sudah bedol desa dua kali. Pertama tahun 1971 yang direlokasi secara swadaya rumah dipindah ke dekat jalan menbujur dari arah selatan ke utara sederet jalan utama kedung Jepara. Awal mulanya tahun 1971 seluruh rumah terkena musibah angina putting beliung yang menelan korban jiwa, dan puluhan rumah roboh. Disamping  abrasi pantau yang menjadikan bibir pantai dekat dengan tempat tinggal warga.
Menurut warga dulu bulak baru wilayahnya luas sederet dengan ujung desa teluk awur, dengan kekayaan yang melimpah pertanian yang subur, ternak kerbau dan aktifitas nelayan yang cukup. Warga sejahtera  konon  warga sampai memiliki kendaraan mewah yaitu kereta sebagai sarana transportasi yang mewah. Sampai warga desa lain menyewa kereta untuk pesta perkawinan. Pertanian yang subur hasil padi yang luayan berkwealitas beda. Padi hasil sawah bulak  rasanya enak dan sedap. Hali ini pernah diutarkan Bapak Bupati Jepara dalam dialog interaktif di radio Kartni FM Jepara pada bulan Nopember 2010.
Dalam catatan lain warga Bulak Baru dulunya pemberani dan disegani warga desa lain karena kekayaan dan kemakmuran, terbukti keberanian itu muncullah tokoh-tokoh kiri juga golongan merah . Namun sejak relokasi pertama tahun 1971 sebagioan warga desa ada yang transmigrasi ke kuar jawa. Maka watk dan kehidupannya menjadi lain. Sebagian warga transmigrasi ke Lampung yang sampai sekarang mereka  masih disana beranak cucu.
Sebelum relokasi kedua Bulak kembali dilanda bencana tahun 1983  badai ekstrim naiknya air laut ke rumah warga. Penulis masih ingat ketika sunami kecil disertai angina kencang menerjang rumah penduduk. Penulis bersama adik yang digendong ibu berpegangan pohon waru di depan rumah diterjang gelombang laut bertubi-tubi. Alhamdulillah selamat sampai air laut turun dan daratan kembali terlihat semula. Kejadiannya sekitar jam tiga malam. Astagfirullah………umur kami masih panjang. Paginya warga desa mengungsi kelai desa ada yang ke desa SEMAT, Panggung dan desa-desa lain sesuai dengan kedekatan saudara yang mampu menampung. Penulis 1 minggu mengunsi di tempat saudara di Semat. Masih ingat dan semogaq tidak terulang lagi.
Tahun 1984 desa bulak baru direlokasi ke wilayah Bugel oleh pemerintah yang waktu itu Gubernur Jateng Bpk. Suparjo Rustam dan Bupati Jepara Bpk Hisyam Prsetyo  dan camat Kedung Bapak Hendro Martojo yang sekarang menjadi Bupati Jepara..
Sejak itulah Bulak menjadi Bulak Baru dengan wajah baru, lokasi rumah tertata rapi setiap rumah menghadap jalan dan gang berderet per erte dari Rt 01 sampai RT04 seperti perumnas dan komplek mewah di kota besar.
Kenangan tetaplah kenangan Penulis mengalami relokasi pertama dan kedua, Relokasi pertama tahun 1971 penulis masih banyi dan tidak ingat. Yang penulis ingat sekitar tahun 1976 ketika masih anak-anak seusian si bolang, seringa bermain di pantai, sekolah madrasah sore, main bola dan perang perangan. Kalau bulan puasa rame banget main petasan  mobil mobilan dan arak-arakan takbir keliling jelang idul fitri. Semua hanya kenangan. Tempat itu, lapangan bola, rumah penulis sudah menjadi lautan hijau……….sungguh menyedihkan. Teman-teman penulis masih sekampung juga ada yang di lampung ikut transmigrasi.
            Lebaran ketupat 2012 aku lihat begitu jauh garis pantai yang terkena abrasi, satu tahun kira-kira 500 meter. Terbukti tahun kemaren pemecah gelombang yang dibuat UNDIP tahun 1999 sudah terlewati tampak jauh diseberang laut. Sungguh mengerikan……bagaimana nanti satu dua tahun kedepan akankah kami bedol desa lagi..Wallahu A’lam.
Keterkaitan Bulak dengan bugel sudah ada sejak zaman dulu, tokohnya sama yaitu Syekh Waliyullah Mangun Sejati yang setiap tahunnya haulnya diperingati tiap bulan Muharrom, Tokoh lain Mbah Sediyo dan Mbah Sediman yang tiap bulan apit / Dzul Hijjah dijadikan momentum sebagai cikal bakal desa Bulak lama.
Ketika haul Mbah Mangun Sejati  seluruh warga desa bugel dan bulak baru bersatu berdo’a bersama dan diadakan kegiatan untuk memeriahkan. Makam waliyullah terletak di desa bugel bagian barat dan arah timur Bulak baru. Maka amat strategis ditenga dua desa.
Penulis masih ingat Petinggi Desa Bulak baru tahun 70 an Bapak Sutoyo sampai tahun 1998 dan diganti Musro dan tahun 2007 Bapak Sutiyono.Dalam bertugas Bapak Sutiyono dibantu Carik Bp. Masnur, Petengan merangkap TU Somad, S.Ag, Kaur Keuangan Subardi, Modin Ismail, Kebayan Listiono dan Ladu Sarmin. Sesuai perda hari Rabo  tanggal 10 Nopember ada penggantian perangkat baru yaitu Kaur keuangan Rif’an dan Ladu Sunadi Hermanto. Bersambung……………

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar